CerpenKuh

Dari jendela kamar, ku masih memandang kagum indahnya pagi yang tak kutemui di tanah airku. Bongkahan serbuk putih sangat dingin ini membuatku teringat dengan mimpiku yang ingin sekolah di negeri matahari terbit. Walaupun hari ini aku hanya melaksanakan kegiatan KKN dari universitas, ku yakin di tahun 2015 mendatang, ku kan kembali di tempat ini dengan membawa semua harapan dan mimpi-mimpiku yang sempat orang-orang tertawakan. Ku ingat jelas di daftar mimpi-mimpiku tertulis angka 23. KKN di jepang tahun 2014. Dan itu sudah kubuktikan hari ini. Salju yang dulunya hanya dapat kulihat di layar televisi kini dapat kusentuh secara nyata, berwisata bersama Shinkansen ke tempat-tempat menarik yang dulunya hanya dapat kurasakan melalui dunia fantasiku kini kuwujudkan secara nyata dan membawanya ke tempat ini bersama dengan tekad membara dan impian-impianku.
Jepang adalah Negara. Walau begitu, indonesia tetap menjadi negara yang paling ku agung-agungkan di muka bumi ini. Negeri yang memberiku begitu banyak pelajaran, negeri yang memberiku inspirasi sehingga ku bisa berada ditempat ini. Riak-piak kicauan burung seakan akan menyapaku dengan syair lagu mereka. Anganku memuja dan memuji sang pencipta, Dialah Yang Maha Sempurna telah menciptakan alam ini dengan segala isinya. Dari arah barat, sebuah bangunan kecil berpanorama religi mengumandangkan syair indah penuh maknaNya.
“Allahuakbar, Maha Besar Engkau yang telah mengizinkan aku menikmati sisi lain dari bumiMu ini ya Allah.” Bisikku dalam hati. Kulirik g-shock yang masih mencengkeram pergelangan tanganku, jarum pendeknya menunjuk ke angka lima.
“Astagfirullah, belum pika padeng sholat”. Gumamku dalam hati. Segera ku kisutkan tubuhku untuk menunaikan kewajibanku. Sujudku diatas tirai sajadah kasihMu ya Allah.
“Assalamualaikum, apa kabar saudaraku sekalian, daku mendoakan, agar kamu selamat sejahtera…”. Lantunan merdu suara khas Opick terdengar nyaring membuatku tersentak dari lamunanku dan segera meraih handphone
“Assalamualaikum nak”. Terdengar suara wanita separuh baya dari speaker telepon genggamku yang tak lain adalah ibu.
“Waalaikumsalam mak, bagaimana kabarta’ sama adek-adekku? baik-baik jeki to?”. Ucapku dengan nada halus.
“iyee, sehat-sehat jika semua nak. Kita ia, bagaimna mi keadaanta’ sekarang? Baik-baik meki? Kaki’ta bagaimana mi? Ndag sakit-sakit mi lagi nak?”. Tanya ibu dengan penuh kekhawatiran.
Entah mengapa setiap kali ibu menanyakan keadaanku lebih tepatnya lagi menanyakan keadaan kaki dan tanganku, ingin rasanya ku mengamuk sejadi-jadinya. Mengapa fisikku seperti ini. Mengapa harus aku yang diciptakan dengan sebelah kaki dan sebelah tangan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali menjadi bumerang dalam fikiranku. Rasanya ketidakadilan menyelimuti setiap perjalanan hidupku. Seharusnya diusia yang sekarang ini, ibu tidak lagi bersusah payah menafkahi aku dan adik-adikku. Tanggung jawab itu seharusnya sekarang menjadi tanggunganku. Sempatku berfikir untuk mengakhiri segala penderitaan ini yang selalu menjadi gejolak dalam hati dan fikiranku dengan cara yang tidak manusiawi. Namun sebelum hal bodoh itu benar-benar kulakukan, tiba-tiba ku teringat dengan semua pengorbanan dan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu.
Ibulah yang selama ini merawatku dengan penuh kasih sayang. Ia pula yang mengajarkanku arti keikhlasan, kesabaran, serta kejujuran. Ibu selalu menjadi pelipur laraku disaat semua teman-teman menjauhi dan mencemooh fisikku yang berbeda bentuk dengan mereka. Ibu adalah sosok malaikat berwujud manusia yang sengaja Allah ciptakan untuk menemaniku melawan kerasnya hidup.
Namaku Asrullah, kerap disapa ullah oleh ibu dan teman-temanku. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang pertama bernama Ruslan. Sekarang ia duduk di bangku kelas dua SMA. Ia adalah anak yang sangat religius, penyabar, dan mudah bergaul. Prestasinya di sekolah cukup membanggakan. Selanjutnya yaitu Ilham, ia anak yang cerewet, teliti, dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Wataknya yang agak humoris membuatku selalu merindukan senda guraunya. Ibuku bernama Darma dan ayahku bernama Firman. Ayahku meninggal saat aku masih berada dalam kandungan. Walaupun aku tidak pernah melihat sosok ayah, namun aku tidak pernah merasa kehilangannya karena kata Ibuku aku mewarisi keindahan matanya.
Ruslan dan Ilham adalah dua anak titisan malaikat yang diberikan Allah untuk menemaniku dan ibu. Kami menemukan mereka saat kami hendak pulang ke gubuk kecil kami saat aku masih berusia empat tahun. Aku bangga memiliki adik-adik super seperti mereka. Dengan segala keterbatasan fisik yang kumiliki, mereka mampu memberiku kekuatan sehingga aku dapat tegar dalam menghadapi segala cobaan hidup yang semakin membuatku dewasa.
Aku terkadang iri melihat teman-temanku yang diantar jemput ke sekolah oleh ayah mereka. Melihat mereka bercanda gurau membuatku cemburu dan ingin merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Seandainya saja aku diberi kesempatan untuk merasakan guratan tangan dari seorang ayah. Ingin rasanya kubuat perahu kayu dengan ayahku. Ku ingin menyeberangi samudera bersama ayah, agar dunia tahu bahwa hidupku tidak akan dihalangi oleh siapapun juga, termasuk lautan dan ombak sekalipun.
Namun, itu tidak mungkin terjadi. Karena waktu terus berputar. Yang telah pergi tidak mungkin kembali lagi. Yang aku tahu, ayah sekarang tersenyum melihatku mampu mengalahkan congkaknya dunia. Ia pasti bangga melihatku berada di tempat ini dengan prestasi yang kuraih. Walau aku tidak seperti teman-teman yang bahagia bersama kedua orangtua mereka, Aku beruntung memiliki ibu yang sangat menyanyangiku. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang kumiliki, ibu mampu membuatku percaya diri dan bisa bersinar terang diantara ribuan bintang yang berkilauan. Tak akan bisa ku membalas pengorbanan dan jasa-jasanya yang begitu besar. Ibu adalah harta terindah paling berharga dalam hidupku.
“minta maaf ka’ di nak, ini ji yang bisa ku kasi’ki”. Sambil menyodorkan sebungkus nasi dan sesendok garam.
“iyee, tidak papa ji mak, ini laginya enak sekali mi”. Ungkapku dengan wajah yang kubuat ceria.
“kita’, kenapa ndak makan ki’ mak?”. Tanyaku kemudian.
“belum pika lapar nak, baru-baru ka’ sudah makan inie.” Jawab ibu singkat.
Kejadian lima belas tahun yang lalu itu masih terekam jelas dalam memori otakku. Seolah-olah menjadi alarm disetiap kali ku berada dalam kebimbangan dalam mengambil keputusan. Aku tahu bahwa pada saat itu ibu memperjuangkan anaknya yang sedang kelaparan. Walau sebenarnya mungkin perutnya lebih membutuhkan sesuap nasi dibandingkanku. Kupandangi wajahnya yang mulai berguyur keringat, hatiku perih melihat keriput disetiap sela kulitnya yang semakin menua. Tanpa kusadari air mata yang sejak tadi ku timbun dalam-dalam, kini jatuh tergerai ke bagian pintu ka’bah yang terukir indah dalam sajadahku.
“Ya Allah, kumohon kepadaMu berikan ketegaran dan kekuatan kepada hambaMu ini serta tuntunlah hamba agar kubisa mewujudkan cita-cita ibu untuk berkunjung ke BaitullahMu.”
***

To Be Continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s